Hidup kita, rangkaian episode yang tak terduga. Di antaranya ada yang membuat kita semakin kuat. Di antaranya ada yang membuat kita terjerembab. Ada pula di antaranya yang bahkan mungkin kita lupa, apa yang terjadi di dalamnya. Andai kita dapat menghadirkan kembali janji yang terucap sesaat sebelum kita dititipkan pada rahim bunda, tentu kita akan menjadi aktor dan aktris yang tanpa cacat. Tanpa cacat karena setiap hal sesuai inginNYA. Tanpa cacat karena kita bernafas dengan ‘sadar’, meski sebentar. Sebentar- sebentar sadar, sebentar-sebentar tidak.
Sadar ataupun tidak, episode kehidupan ini terasa begitu panjang, meninggalkan kepingan-kepingan waktu di belakang, entah itu sebagai deret prestasi atau justru terbuang tanpa arti. Dan kita masih di sini, masih bukan siapa-siapa, masih diri kita yang sama. Kita mungkin merasa ‘muda’, jenjang karir kita di dunia masih jauh terbentang, masih lama. Tentu kita tahu, kita bisa disingkirkan dari panggung dunia kapan saja. Siapa bisa menduga? Tapi, mengapa masih diri kita yang SAMA yang saat ini merefleksikan siapa kita? Mengapa masih belum ada perbedaan yang bermakna dari diri kita? Diri kita satu, dua, atau tiga tahun sebelumnya? Perbedaan itu mungkin ada, namun yang jadi pertanyaan adalah sejauh mana perbedaan itu bermakna terhadap pembentukan karakter dan tujuan akhir hidup kita.
Sejauh ini, babak demi babak yang kita lalui menyiratkan berbagai warna kehidupan. Kita punya peran yang berbeda, menghadapi realita yang berbeda, namun ingatlah kita memiliki Maha Sutradara yang sungguh luar biasa. Betapapun rumitnya jalan cerita, saat kita patuh dengan semua arahanNYA, yakinlah episode-episode ini akan terus memiliki nilainya. Sebab inilah panggung kita, tempat kita mengekspresikan jiwa. Setiap kita memiliki kemampuannya masing-masing, semua ada kadarnya. Peran yang diberikanNYA pun telah disesuaikan dengan kemampuan kita. Dan kitalah yang memilih apakah akan melakukannya dengan sempurna atau tidak. Kitalah yang menentukan apakah akan berimprovisasi atau tidak. Semua dalam pengawasanNYA. IA yang akan menilai level kita untuk episode-episode selanjutnya. Akan ada peran-peran berikutnya yang membutuhkan kearifan kita di sana.
Episode panjang ini begitu cepat berlangsung. Tiba-tiba kita semakin dewasa, tiba-tiba kita semakin ‘jenaka’. Tiba-tiba kita sudah berada hampir di penghujungnya. Bukan etase mimpi, kita harus menyadari ini. Entah berapa lama lagi kita diberi kesempatan mementaskan jiwa kita. Entah berapa lama pula panggung dunia ini sanggup mengusung kita. Panggung ini kian rapuh, kian tua. Hendak ke mana kita jika IA merobohkannya? Sayang kita tidak tahu kapan episode panjang ini akan berakhir. Namun yang pasti, ia akan berakhir. Jangan sampai, saat di dunia kita seperti orang yang tertidur, dan ketika mati seperti orang yang baru saja bangun tidur. Terperangah! Bingung karena baru tahu bahwa panggung dunia-nya sudah habis masa kontraknya. Detik-detik itulah yang akan menentukan siapa kita di hadapanNYA. Kita yang dulu pernah berjanji, setia padaNYA.
Allohumma bariklana fi rojaba wa sya’ban wa balighna romadhon.
[SKC]






Forum Kerja Alumni Rohis (FKAR) Lampung menyelenggarakan perhelatan akbar, Grand Launching AMAR (Anggota Muda Rohis) untuk pelajar di Propinsi Lampung pada hari minggu, 8 Agustus 2010. Sebanyak 1400 pelajar dan puluhan d...