Siang itu sebuah acara fenomenal sedang digelar di salah satu sekolah terbaik di Propinsi Lampung. Halaman sempit yang serbaguna, disulap menjadi arena teater beralaskan permadani-permadani hijau. Di tribun barat, dipasang tirai panjang yang juga hijau. Satu set property disiapkan. Di balik layar, beberapa orang aktor dan aktris, tim properti, camera person, serta seorang ‘asisten’ sutradara masih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Di tribun utara dan selatan, para penonton berjejalan berebut tempat yang paling nyaman. Beberapa guru tak ayal dibuat kewalahan merespon animo siswa-siswinya yang begitu besar. Mau tidak mau mereka berbagi tugas mengatur posisi duduk para siswa dari satu koridor ke koridor lainnya. Lucunya, halaman sempit yang telah berlapiskan permadani hijau itu, tak satu pun yang mau menempatinya. Sebab satu alasan: terik matahari yang menyengat.
Di belakang layar, seorang gadis remaja terlihat sedang menulisi secarik kertas. Sesekali pandangannya beralih ke depan. Sesekali menengadah ke atas. Tak terganggu ia dengan lalu-lalangnya orang-orang. Gadis itu yang berperan sebagai ibu dari 3 orang anak yang bersuamikan seorang koruptor. Dari kostum yang ia kenakan, setelan gamis dan jilbab hitam, orang tak akan menyangka umurnya baru tiga belasan. Perawakannya cukup dewasa. Sendiri ia duduk di pojok koridor belakang. Di dekatnya juga duduk seorang gadis kecil dengan kostum berwarna krem. Lembut. Selembut senyum-senyum yang senantiasa tersungging di bibirnya. Senyum yang selalu kutemukan setiap kali datang.
Dari arah yang berseberangan, terlihat seorang anak lelaki berlari-lari kecil menggenggam botol kaca bekas minuman teh instan. Langkahnya terhenti ketika seorang guru menegurnya untuk tidak berlarian di tengah situasi seperti itu. Namun dengan cepat ia mengiyakan dan segera menuju ke belakang layar.
“Ya nih Mbak, tim propertinya kelupaan nyiapin botol buat acting minuman keras. Pake ini aja lah, lumayan, daripada gak ada.” ujarnya tanpa sempat kutanyai. Cerdas. Dibacanya pertanyaan itu dari mimik wajahku.
Seketika yang lainnya menghampiriku. Kompak dengan satu pertanyaan.
“Mbak, Kak Gan-nya mana? Kok belom dateng?”
“Bentar lagi, Kak Gan udah janji dateng kok. Tadi ditelpon bilangnya gitu kan?”
“Ya tapi mana Mbak, belum dateng-dateng juga. Kitorangnya jadi gak semangat nih!” seorang anak lelaki gemuk dengan kostum dalang ala OVJ di stasiun TV...tiit…, agak sedikit cemberut seraya membetulkan posisi jarit-nya.
“Tuh Mbak, nasyidnya udah hampir selesai. Bentar lagi giliran kita.” yang lainnya menyahut.
Kurangkul beberapa orang adik akhwat ke sisiku, kuminta yang lain mendekat.
“Sabar ya, Kak Gan bilang pasti dateng. Beliau pengen banget liat kalian tampil. Di mana drama di gelar, di situ pasti ada sutradaranya kan? Soal yakin nggaknya, kemaren-kemaren kan udah pada latihan. Persiapan hari ini insyaAllah gak ada yang kurang. Semua udah maksimal. Style kalian juga udah meyakinkan banget. Nah, kalo kita udah bener-bener berusaha, berarti sekarang harus…”
“Tawakal!” jawab beberapa di antara mereka melanjutkan kalimatku.
“Good job! Mbak yakin, kalian pasti bisa. Bismillah ya, karena Alloh. Bukan karena kak Gan, bukan juga karena mbak-mbak TKS, ok, siip?!”
“Ya Mbak, Bismillah. Optimis!”
“Nah sekarang Rifki yang pimpin kita doa ya, ayo dek!”
“Bismillahirrahmaniraahim. Ya Alloh, mudahkanlah drama kami hari ini ya Alloh, lancarkan segala sesuatunya. Untuk-Mu kami persiapkan semua ini ya Alloh. Amin.”
“Aamiin.”
Tak lama suara MC mengumumkan tiba saatnya adik-adikku itu tampil.
“Baiklah, setelah kita sama-sama mendengarkan nasyid dari tim paduan suara, mari sekarang kita sambut pementasan drama dari teman-teman Rohis. Inilah dia, drama berjudul Hidayah buat Koruptor.”
Serta-merta riuh tepuk tangan membahana di seluruh penjuru SMP Negeri 2 Bandar Lampung. Haris,yang berperan sebagai dalang, adalah yang pertama memasuki arena pementasan. Drama adik-adikku ini lain dari drama pada umumnya. Mereka dengan sangat kreatif mengatur skenarionya jadi mirip Opera van Java. Spontan gelak tawa penontonlah yang paling dulu terdengar beriringan dengan riuh tepuk tangan itu.
Si dalang mulai membuka jalan cerita. Adegan demi adegan pun dimulai. Drama berkisah tentang seorang koruptor bernama Pak Gandharu. Entah bagaimana ide memakai salah satu nama TKS terpikirkan di otak mereka. Lucu. Kreatif. Pak Gandharu yang diperankan oleh Rifki, memiliki seorang istri yang soleha, Nadia, dan tiga orang anak: Farel, Rahma, dan Yaya. Dari ketika anaknya itu hanya Rahma yang soleha. Farel seorang pemabuk dan Yaya seorang pembangkang yang sangat kasar pada ibunya.
Adegan demi adegan dengan sukses mempengaruhi emosi penonton. Paduan acting dari setiap mereka dan back sound yang pas acapkali membuat penonton tertawa, berteriak, bertepuk tangan, dan sebagainya. Tiga jempol buat Reza (satu jempolnya pinjem J) yang membuat scenario, eksis di belakang mengatur sound, sekaligus berperan sebagai malaikat berkostum mihram. Buat Farel yang berperan ganda, menjadi anak dan juga ‘setan’ di lain adegan. Juga trio Nadia, Rahma, dan Yaya yang sangat total dalam perannya. Mereka luar biasa.
Kusaksikan mereka dari mushola di lantai atas untuk mendokumentasikan. Sesekali turun ketika mereka tampak gupek di belakang layar. Sekilas pandanganku mendapati sang sutradara yang sesungguhnya telah hadir dan menyaksikan mereka di bawah sana. Alhamdulillah, adik-adik jadi nampak kian bersemangat.
Saat itu tiba adegannya Rahma berdoa untuk Ayah dan dua orang saudaranya. Beberapa adegan berikutnya Nadia menyusul, duduk bersimpuh merintih ke hadapan Alloh atas permasalahan keluarganya. Tergetar hatiku. Spontan tak fokus lagi pada video yang sedang kurekam. Kupandangi mereka berdua. Dalam.
Mereka menangis. Kalimat demi kalimat mengalir begitu lancar dari bibir-bibir kecil itu. Menyentuh. Semua hening. SMPN 2 yang sempit seolah benar-benar menjadi begitu sempit. Semua melebur jadi satu, ke dalam sebuah inti yang entah bagaimana menganalogikannya. Tak ada tepuk tangan dan teriakan penonton seperti sebelumnya. Semua khusyuk mendengarkan mereka. Lama. Inikah yang mereka tulis di pojok koridor tadi,pikirku. Dari scenario yang kubaca, Reza tidak menuliskan kalimat-kalimat itu pada skenarionya. Aku yakin benar. Subhanalloh. Begitu bening hati mereka! Air mata itu bukan acting, bukan rekayasa belaka.
Kualihkan pandangan dari mereka. Kutatap lekat-lekat mushola di sisi kananku. Ya Allah, ini bukan dejavu. Meski seperti melihat bayangan diriku pada diri mereka. Tujuh tahun lalu, bersama hidayah yang begitu sejuk menyusup ke dalam kalbu. Dan mushola ini, mushola Ar Rohman, dia yang menjadi saksi ketika untuk pertama kalinya air mata itu tertumpah karenaNYA, di sini, di sekolah ini, tepat di hari pertama invasi Amerika Serikat terhadap Irak!
Sekelebat bayangan bermunculan dalam ingatan. Berdesak-desakkan untuk diputar ulang. Masing-masing bayangan mulai memposisikan dirinya sesuai urutan. Mulai dari ketika guncangan itu terjadi lalu entah bagaimana semuanya mengalir begitu saja. Ketika tempat ini yang kemudian kupilih untuk mengadu kepadaNya. Ketika berbulir-bulir air mata terjungkal tanpa dapat kuhitung. Dan dengan hangat IA rengkuh aku dengan cinta dan hidayah itu. Ya Alloh, sungguh indah skenarioMu.
Entah bagaimana isi video yang kurekam. Cukup lama terdiam hingga sontak tersadarkan oleh respon penonton yang begitu ramai. Nadia terkapar! Rahmah kebingungan!
Oopps….tenang! Nadia hanya berakting seolah meninggal mendadak. Dan itu menjadi awal perubahan keluarganya. Suaminya, Pak Gandharu, tersadarkan setelah sempat mendengarnya berdoa. Begitu pula dengan ketiga anaknya. Sayang semua terlambat karena sang istri sekaligus ibu telah pergi untuk selamanya. Ending cerita jadi semakin dramatis ketika beberapa orang selaku RT dan perwakilan dari KPK datang untuk memenjarakan Pak Gandharu dengan tuduhan tindak pidana korupsi yang dilakukannya. Terjadi tarik menarik antara anak-anak, bapaknya, dan orang-orang dari KPK. Penonton menghela. Kecewa.
Dalang pun akhirnya menutup drama itu diikuti dengan tepuk tangan penonton dan para guru. Setengah berlari kususuri anak-anak tangga mushola itu. Sampai di bawah kupeluk mereka satu per satu: Nadia, Rahma, Yaya. Ekor mata melembab. Janji hati, tak akan berhenti sampai di sini.
[SKC]