Blue Diary

LIMA SEKAWAN (Part One)


 

 

Lekat kupandangi frame ungu di sudut meja kayu. Foto lima sekawan tiga tahun lalu. Kala itu sedang harum-harumnya aroma persahabatan, sedang manis-manisnya kebersamaan. Harum manis gitu deh! Kini, meski gak semanis dulu lagi, meski masih tersisa nyeri di hati, kutekadkan untuk lebih banyak ‘memberi’ ketimbang terus membiarkan jiwa ini tersakiti. Insya Alloh Ramadhan ini. Pasti.

 

Selanjutnya...
 

PELANGI Di Hati dan Tangan Kita

Hujan lebat. Langit berselimut gelap. Matahari seolah sedang berhibernasi, enggan menampakkan dirinya dalam beberapa waktu ini. Air bak tumpah dari langitNya yang luas. Lama. Jeda sesaat dan kembali tertumpah. Jalan-jalan basah.

Selanjutnya...
 

Terpana SMS Cinta

Jantungku mulai berdetak cepat. Sekolah sudah sepi. Nyaris tidak ada siswa berseragam SMA yang masih beraktivitas, selain anak-anak ekskul tari yang nampak sedang serius mengikuti irama dan ketukan musik latarnya. Keringat mulai bercucuran, lengkap dengan nafas tersengal-sengal, tak beraturan. Langkah kaki kian gusar saat menuruni anak-anak tangga menuju mushola di lantai dasar. Tidak ada suara sama sekali. Pintu mushola tertutup. Tidak ada sepatu di rak sisi kiri pintu. Tap…tap..tap…Bismillah.

“Kreek!” kubuka pintu mushola itu.

“Assalamu’alaikum!”

Tak ada jawaban. Kubuka tirai pemisah di bagian akhwat. No one. Tenang…mungkin adek-adek lagi makan. Tapi, kantin kan sudah tutup. Mm…mungkin mereka lagi makan ke luar. Tunggu aja bentar. Dua sisi hati saling menimpali.

Fuihh..lelah sekali. Andai bisa bawa kendaraan sendiri. Coba mengatur nafas. Rehat sejenak menghilangkan penat. Lima menit berlalu belum ada tanda-tanda ada yang akan datang. Ku-sms mereka semua. Tak kunjung berbalas. Cek pulsa dulu, masih bisa calling apa tidak. Masih. Tuut…tuut…tuut…tak ada jawaban. Coba yang lain. The number you are calling is not active. Coba yang lainnya lagi. Tak berbeda.

Sepuluh menit berlalu tanpa kabar. Dua puluh…tiga puluh…empat puluh menit...masih sama. Sms-sms mulai masuk. Bukan permohonan izin atau apa, tapi pemberitahuan: KETIDAKHADIRAN!

Kantung mata mulai basah. Cobaan kecil ini…agak sesak juga rasanya. Setelah menempuh jarak yang lumayan dari sekolah sebelumnya…jurus jalan cepat dan hampir terserempet angkot gila...terkilir di perempatan...belum lagi reaksi asam lambung yang minta dinetralkan… Sesak di hati serasi dengan ngilu yang menjalar.

********

Sudah kuikhlaskan. Kesalahan ada padaku yang hari itu belum bisa jadi murobi teladan. Murobi ‘telatan’ iya! Harus berefleksi dan kembali mengatur strategi-strategi penyentuh hati. Bip bip bip…1 message received.

Assalamu’alaikum.

Mbak, ini Yahya, masih inget gak?

Kapan maen ke sekolah Yahya lagi mbak, ngajar rohis lagi?

Yahya kangen sama mbak!

 

Kantung mata basah lagi. Tergetar hati. Pertama kali mendapatkan sms selugas itu. Pertama kali ada adik binaan yang sepolos dan se-ekspresif itu. Adik kecil di sebuah SMP Negeri. Adik kecil yang baru sekali kutemui, berbulan-bulan lalu. Adik kecil yang saat itu baru saja tamat SD. Adik kecil yang tubuhnya pun juga kecil. Tapi nyalinya tidak kecil. Paling bersemangat membuka acara, tilawah, bertanya, mengungkapkan pendapatnya.

Inilah pertama kalinya, benar-benar merasa berarti dan dicintai sebagai seorang murobi, sebagai seorang da’i. Kekecewaan hilang sudah, berganti dengan semangat baru yang membuncah.

Kita, murobi-murobiyah dakwah, harus lebih tegar dan ikhlas lagi, karena masih banyak jiwa-jiwa suci yang menunggu sentuhan tarbiyah ini. Never give up till the end!

 

“Demi Alloh, jika Alloh memberikan petunjuk kepada seseorang melalui perantaramu, maka hal itu lebih baik bagimu dari unta merah. “ (H.R. Bukhari-Muslim)

 [SKC]

 

 

 

 

Bukan Dejavu

Siang itu sebuah acara fenomenal sedang digelar di salah satu sekolah terbaik di Propinsi Lampung. Halaman sempit yang serbaguna, disulap menjadi arena teater beralaskan permadani-permadani hijau. Di tribun barat, dipasang tirai panjang yang juga hijau. Satu set property disiapkan. Di balik layar, beberapa orang aktor dan aktris, tim properti, camera person, serta seorang ‘asisten’ sutradara masih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Di tribun utara dan selatan, para penonton berjejalan berebut tempat yang paling nyaman. Beberapa guru tak ayal dibuat kewalahan merespon animo siswa-siswinya yang begitu besar. Mau tidak mau mereka berbagi tugas mengatur posisi duduk para siswa dari satu koridor ke koridor lainnya. Lucunya, halaman sempit yang telah berlapiskan permadani hijau itu, tak satu pun yang mau menempatinya. Sebab satu alasan: terik matahari yang menyengat.

Di belakang layar, seorang gadis remaja terlihat sedang menulisi secarik kertas. Sesekali pandangannya beralih ke depan. Sesekali menengadah ke atas. Tak terganggu ia dengan lalu-lalangnya orang-orang.  Gadis itu yang berperan sebagai ibu dari 3 orang anak  yang bersuamikan seorang koruptor. Dari kostum yang ia kenakan, setelan gamis dan jilbab hitam, orang tak akan menyangka umurnya baru tiga belasan. Perawakannya cukup dewasa. Sendiri ia duduk di pojok koridor belakang. Di dekatnya juga duduk seorang gadis kecil dengan kostum berwarna krem. Lembut. Selembut senyum-senyum yang senantiasa tersungging di bibirnya. Senyum yang selalu kutemukan setiap kali datang.

Dari arah yang berseberangan, terlihat seorang anak lelaki berlari-lari kecil menggenggam botol kaca bekas minuman teh instan. Langkahnya terhenti ketika seorang guru menegurnya untuk tidak berlarian di tengah situasi seperti itu. Namun dengan cepat ia mengiyakan dan segera menuju ke belakang layar.

“Ya nih Mbak, tim propertinya kelupaan nyiapin botol buat acting minuman keras. Pake ini aja lah, lumayan, daripada gak ada.” ujarnya tanpa sempat kutanyai. Cerdas. Dibacanya pertanyaan itu dari mimik wajahku.

Seketika yang lainnya menghampiriku. Kompak dengan satu pertanyaan.

“Mbak, Kak Gan-nya mana? Kok belom dateng?”

“Bentar lagi, Kak Gan udah janji dateng kok. Tadi ditelpon bilangnya gitu kan?”

“Ya tapi mana Mbak, belum dateng-dateng juga. Kitorangnya jadi gak semangat nih!” seorang anak lelaki gemuk dengan kostum dalang ala OVJ di stasiun TV...tiit…, agak sedikit cemberut seraya membetulkan posisi jarit-nya.

“Tuh Mbak, nasyidnya udah hampir selesai. Bentar lagi giliran kita.” yang lainnya menyahut.

Kurangkul beberapa orang adik akhwat ke sisiku, kuminta yang lain mendekat.

“Sabar ya, Kak Gan bilang pasti dateng. Beliau pengen banget liat kalian tampil. Di mana drama di gelar, di situ pasti ada sutradaranya kan? Soal yakin nggaknya, kemaren-kemaren kan udah pada latihan. Persiapan hari ini insyaAllah gak ada yang kurang. Semua udah maksimal. Style kalian juga udah meyakinkan banget. Nah, kalo kita udah bener-bener berusaha, berarti sekarang harus…”

“Tawakal!” jawab beberapa di antara mereka melanjutkan kalimatku.

Good job! Mbak yakin, kalian pasti bisa. Bismillah ya, karena Alloh. Bukan karena kak Gan, bukan juga karena mbak-mbak TKS, ok, siip?!”

“Ya Mbak, Bismillah. Optimis!”

“Nah sekarang Rifki yang pimpin kita doa ya, ayo dek!”

“Bismillahirrahmaniraahim. Ya Alloh, mudahkanlah drama kami hari ini ya Alloh, lancarkan segala sesuatunya. Untuk-Mu kami persiapkan semua ini ya Alloh. Amin.”

“Aamiin.”

Tak lama suara MC mengumumkan tiba saatnya adik-adikku itu tampil.

“Baiklah, setelah kita sama-sama mendengarkan nasyid dari tim paduan suara, mari sekarang kita sambut pementasan drama dari teman-teman Rohis. Inilah dia, drama berjudul Hidayah buat Koruptor.”

Serta-merta riuh tepuk tangan membahana di seluruh penjuru SMP Negeri 2 Bandar Lampung. Haris,yang berperan sebagai dalang, adalah yang pertama memasuki arena pementasan. Drama adik-adikku ini lain dari drama pada umumnya. Mereka dengan sangat kreatif mengatur skenarionya jadi mirip Opera van Java. Spontan gelak tawa penontonlah yang paling dulu terdengar beriringan dengan riuh tepuk tangan itu.

Si dalang mulai membuka jalan cerita. Adegan demi adegan pun dimulai. Drama berkisah tentang seorang koruptor bernama Pak Gandharu. Entah bagaimana ide memakai salah satu nama TKS terpikirkan di otak mereka. Lucu. Kreatif. Pak Gandharu yang diperankan oleh Rifki, memiliki seorang istri yang soleha, Nadia, dan tiga orang anak: Farel, Rahma, dan Yaya. Dari ketika anaknya itu hanya Rahma yang soleha. Farel seorang pemabuk dan Yaya seorang pembangkang yang sangat kasar pada ibunya.

Adegan demi adegan dengan sukses mempengaruhi emosi penonton. Paduan acting dari setiap mereka dan back sound yang pas acapkali membuat penonton tertawa, berteriak, bertepuk tangan, dan sebagainya. Tiga jempol buat Reza (satu jempolnya pinjem J) yang membuat scenario, eksis di belakang mengatur sound, sekaligus berperan sebagai malaikat berkostum mihram. Buat Farel yang berperan ganda, menjadi anak dan juga ‘setan’ di lain adegan. Juga trio Nadia, Rahma, dan Yaya yang sangat total dalam perannya. Mereka luar biasa.

Kusaksikan mereka dari mushola di lantai atas untuk mendokumentasikan. Sesekali turun ketika mereka tampak gupek di belakang layar. Sekilas pandanganku mendapati sang sutradara yang sesungguhnya telah hadir dan menyaksikan mereka di bawah sana. Alhamdulillah, adik-adik jadi nampak kian bersemangat.

Saat itu tiba adegannya Rahma berdoa untuk Ayah dan dua orang saudaranya. Beberapa adegan berikutnya Nadia menyusul, duduk bersimpuh merintih ke hadapan Alloh atas permasalahan keluarganya. Tergetar hatiku. Spontan tak fokus lagi pada video yang sedang kurekam. Kupandangi mereka berdua. Dalam.

Mereka menangis. Kalimat demi kalimat mengalir begitu lancar dari bibir-bibir kecil itu. Menyentuh. Semua hening. SMPN 2 yang sempit seolah benar-benar menjadi begitu sempit. Semua melebur jadi satu, ke dalam sebuah inti yang entah bagaimana menganalogikannya.  Tak ada tepuk tangan dan teriakan penonton seperti sebelumnya. Semua khusyuk mendengarkan mereka. Lama. Inikah yang mereka tulis di pojok koridor tadi,pikirku. Dari scenario yang kubaca, Reza tidak menuliskan kalimat-kalimat itu pada skenarionya. Aku yakin benar. Subhanalloh. Begitu bening hati mereka! Air mata itu bukan acting, bukan rekayasa belaka.

Kualihkan pandangan dari mereka. Kutatap lekat-lekat mushola di sisi kananku. Ya Allah, ini bukan dejavu. Meski seperti melihat bayangan diriku pada diri mereka. Tujuh tahun lalu, bersama hidayah yang begitu sejuk menyusup ke dalam kalbu. Dan mushola ini, mushola Ar Rohman, dia yang menjadi saksi ketika untuk pertama kalinya air mata itu tertumpah karenaNYA, di sini, di sekolah ini, tepat di hari pertama invasi Amerika Serikat terhadap Irak!

Sekelebat bayangan bermunculan dalam ingatan. Berdesak-desakkan untuk diputar ulang. Masing-masing bayangan mulai memposisikan dirinya sesuai urutan. Mulai dari ketika guncangan itu terjadi lalu entah bagaimana semuanya mengalir begitu saja. Ketika tempat ini yang kemudian kupilih untuk mengadu kepadaNya. Ketika berbulir-bulir air mata terjungkal tanpa dapat kuhitung. Dan dengan hangat  IA rengkuh aku dengan cinta dan hidayah itu.  Ya Alloh, sungguh indah skenarioMu.

Entah bagaimana isi video yang kurekam. Cukup lama terdiam hingga sontak tersadarkan oleh respon penonton yang begitu ramai. Nadia terkapar! Rahmah kebingungan!

Oopps….tenang! Nadia hanya berakting seolah meninggal mendadak. Dan itu menjadi awal perubahan keluarganya. Suaminya, Pak Gandharu, tersadarkan setelah sempat mendengarnya berdoa. Begitu pula dengan ketiga anaknya. Sayang semua terlambat karena sang istri sekaligus ibu telah pergi untuk selamanya. Ending cerita jadi semakin dramatis ketika beberapa orang selaku RT dan perwakilan dari KPK datang untuk memenjarakan Pak Gandharu dengan tuduhan tindak pidana korupsi yang dilakukannya. Terjadi tarik menarik antara anak-anak, bapaknya, dan orang-orang dari KPK. Penonton menghela. Kecewa.

Dalang pun akhirnya menutup drama itu diikuti dengan tepuk tangan penonton dan para guru. Setengah berlari kususuri anak-anak tangga mushola itu. Sampai di bawah kupeluk mereka satu per satu: Nadia, Rahma, Yaya. Ekor mata melembab. Janji hati, tak akan berhenti sampai di sini.

[SKC]

 

Ukhuwah dalam Rangkaian Bunga

Suasana ramai selalu memenuhi masjid kebanggaan mahasiswa Universitas Lampung –Al-Wasi’i. Masjid yang dijuluki sebagai markas aktivis dakwah seluruh kalangan ini selalu penuh dengan jamaah yang akan menunaikan sholat, atau yang hanya duduk-duduk menikmati sejuknya semilir angin dari pintu masuk akhwat dan lubang-lubang kecil yang rapi terjajar seperti saringan air jika dilihat dengat perbesaran 1000x menggunakan mikroskop.
Selanjutnya...
 
Halaman 1 dari 2

 

Ngobrol Disini!

Latest Message: 2 days, 11 hours ago
  • unknown : Assalamu'alaikum Wr Wb. di jawab dong salamnya... Kan wajib....
  • bima : heuleuh kenapa ituh ga bisa komen di tulisannya
  • Hanif : Allahu Akbar
  • median nugra : Salam Sukses dan Super buat kita semua...Dahsyat...Allah ya Karim
  • agung : SEMANGAT
  • agung : SEMANGAT
  • unknown : Takbiru!!!!!!!!!!!!! Selamat menunaikan ibadah puasa....
  • pres pelangi : To: All crew. Diagendakan y tgl 31 Agustus 2010 pkl 13-selesai u/ LPJ pelangi dan iftor jama'i di rmh ibu Bendahara Pelangi.
  • ja\'fad : allohu akbar..................................................
  • panitia : jangan,, ga usah ya..
Arsip


Dari Lampung untuk Palestine

Dari Lampung untuk Palestine Forum Kerja Alumni Rohis (FKAR) Lampung menyelenggarakan perhelatan akbar, Grand Launching AMAR (Anggota Muda Rohis) untuk pelajar di Propinsi Lampung pada hari minggu, 8 Agustus 2010. Sebanyak 1400 pelajar dan puluhan d... Selanjutnya...
More:

ROHIS EXCELLENT PROJECT

Langit mendung dan hujan mengguyur, membasahi tanah dan pepohonan, menutupi hangatnya mentari, namun mendung dan hujan itu tak mampu memadamkan aktivitas di Masjid Nurul Hidayah SMAN 2 Bandar Lampung. First Meeting Anggo...

Selanjutnya...
More:

Teknologi Sebutir Biji

Teknologi Sebutir Biji

Biji, secara kasat mata, ia tak lebih dari butiran-butiran keras. Jika enak dimakan, maka ia akan dikonsumsi manusia. Jika tidak enak dimakan, ia akan dicampakan.
Namun dibalik kesederhanaan sebutir biji, ia menyimpan kea...

Selanjutnya...
More:

Propti, ajang perkenalan kampus

Propti, ajang perkenalan kampus

Propti (Program Orientasi Perguruan Tinggi) mahasiswa baru Universitas Lampung angkatan 2010/2011 dimulai sejak Selasa, 24 Agustus 2010. Sebelumnya Senin, 23 Agustus 2010, para mahasiswa baru sudah di kumpulkan di GSG U...

Selanjutnya...
More: